Dumai – Kilang Dumai yang terletak di Provinsi Riau bersiap mencetak sejarah baru dalam industri energi nasional dengan mengolah 1 juta ton CPO (Crude Palm Oil) menjadi biofuel.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Indonesia dalam transisi energi menuju sumber yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Proyek ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam pemanfaatan energi terbarukan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi komoditas kelapa sawit nasional.
Pemerintah menargetkan produksi biofuel dari kilang ini akan memperkuat ketahanan energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Biofuel yang dihasilkan akan digunakan sebagai campuran bahan bakar minyak, mendukung program B35 bahkan menuju B40 di masa depan.
Dengan kapasitas pengolahan sebesar 1 juta ton CPO per tahun, kilang Dumai diproyeksikan menjadi salah satu fasilitas pengolahan biofuel terbesar di Asia Tenggara.
Baca Juga : Sidang Lanjutan Vadel Badjideh Hadirkan Saksi dari Pihaknya
Infrastruktur kilang telah diperbarui dan diperluas untuk mendukung kapasitas tersebut, termasuk pembangunan reaktor hydrotreating dan unit pemurnian.
Teknologi yang digunakan merupakan teknologi mutakhir yang mampu menghasilkan biofuel ini
Kilang ini juga akan menghasilkan produk sampingan seperti green gasoline dan green jet fuel yang potensial untuk ekspor.
Keberhasilan proyek ini menjadi bukti nyata keseriusan Indonesia dalam mewujudkan komitmen pengurangan emisi karbon.
Dalam jangka panjang, pemanfaatan CPO untuk biofuel juga akan membantu menstabilkan harga sawit di pasar domestik.
Dengan terserapnya CPO dalam jumlah besar, petani sawit diprediksi akan mendapat manfaat ekonomi langsung dari proyek ini.
Pemerintah daerah Riau pun menyambut baik rencana ini dan berharap industri biofuel mampu membuka lapangan kerja baru.
Selain menyerap tenaga kerja, proyek ini juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah, terutama sektor transportasi, logistik, dan UMKM.
Dalam tahap awal operasional, kilang akan fokus memproduksi green diesel yang sesuai dengan standar emisi Euro 4.
Pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM terus memantau perkembangan proyek ini sebagai bagian dari program strategis nasional.
