Dumai – cahaya dari Bumi Terbesar Baru-baru ini, para astronom mengumumkan penemuan lubang hitam ultramasif baru yang sangat fenomenal di jagat raya.
Terletak di pusat galaksi berbentuk elips Messier 87, lubang hitam ini memiliki massa sekitar 36 miliar kali massa Matahari—menjadikannya salah satu yang paling masif yang pernah ditemukan.
Galaksi Messier 87 sendiri berada sekitar 5 miliar tahun cahaya dari Bumi, menjadikannya objek kosmik jarak jauh yang luar biasa.
Penemuan tersebut memicu ulang perdebatan tentang bagaimana lubang hitam bisa tumbuh begitu besar dalam sejarah alam semesta.
Namun, menurut beberapa astronom, lubang hitam di galaksi Messier 87 mungkin menjadi yang paling meyakinkan dari segi data observasional.
Metode gravitational lensing memanfaatkan efek pelensaan cahaya oleh gravitasi objek masif—membuat fenomena seperti “Tapal Kuda Kosmik” (Cosmic Horseshoe) terlihat.
Teknik ini memungkinkan pengukuran massa lubang hitam yang tidak aktif—alias tidak sedang memakan materi—secara lebih akurat.

Baca Juga : Kronologi Gol Kontroversial Calafiori di MU vs Arsenal
Collett menyebut lubang hitam ini sebagai salah satu dari 10 lubang hitam paling masif, dan “kemungkinan besar yang paling masif.”
Efek pelensaan gravitasi inilah yang menyebabkan munculnya bentuk cincin cahaya atau Einstein ring yang khas di sekitarnya.
Perbandingan ekstrem ini menunjukkan lubang hitam mampu tumbuh hingga enam hingga tujuh orde magnitudo lebih besar.
Selain TON 618 (66 miliar massa Matahari), terdapat catatan lubang hitam Abell 1201 dengan massa sekitar 30 miliar kali Matahari.
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar lubang hitam raksasa, namun juga mendalamkan pemahaman evolusi awal alam semesta.
Galaksi yang sekarang seolah menjadi “fosil” dari masa merger galaksi, memperlihatkan tahap akhir pertumbuhan lubang hitam galaksi.
Tim peneliti berharap teleskop misi seperti ESA Euclid dapat melacak lebih banyak lubang hitam tersembunyi dengan teknik serupa.
Sementara itu, temuan lain juga menarik, seperti lubang hitam di galaksi CAPERS‑LRD‑z9 yang berusia sangat dini—sekitar 500 juta tahun usai Big Bang
