Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Viral Siswa SMPN 1 Bumiayu Demo Tolak Kepsek Baru

Shoppe Mall

Dumai – Viral Siswa SMPN 1 Suasana di SMP Negeri 1 Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mendadak ricuh pada Senin (11/11) pagi. Ratusan siswa turun ke halaman sekolah dan menggelar aksi demonstrasi menolak kepala sekolah baru yang baru saja ditugaskan oleh Dinas Pendidikan setempat.
Aksi tersebut sontak menjadi viral setelah sejumlah video dan foto kejadian diunggah ke media sosial dan menyebar luas di berbagai platform.

Viral Siswa SMPN 1 Dalam video berdurasi sekitar satu menit yang beredar, terlihat puluhan siswa berteriak sambil membawa spanduk bertuliskan “Tolak Kepsek Baru!” dan “Kami Ingin Kepala Sekolah Lama Kembali!”. Sebagian siswa bahkan terlihat menangis dan menolak masuk ke kelas.

Shoppe Mall

Sontak, aksi ini menjadi perhatian publik, terutama karena melibatkan siswa sekolah menengah pertama yang dikenal sebagai salah satu SMP unggulan di wilayah selatan Brebes.

Viral Siswa SMPN 1 Kronologi Aksi Penolakan

Viral Siswa SMPN 1
Viral Siswa SMPN 1

Baca Juga : Messi Pebisnis saat Gantung Sepatu, Mulai Pelajari Dunia Bisnis

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, aksi dimulai sekitar pukul 07.30 WIB, tepat sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Saat itu, kepala sekolah baru, Sukirman, S.Pd, dijadwalkan melakukan perkenalan resmi kepada guru dan siswa. Namun, sebelum acara dimulai, sejumlah siswa tampak berkumpul di halaman sekolah dan mulai menyuarakan penolakan.

Tidak lama kemudian, ratusan siswa lain ikut bergabung. Mereka menuntut agar kepala sekolah lama, Nurhayati, M.Pd, yang baru saja dipindahkan ke sekolah lain, tetap dipertahankan memimpin SMPN 1 Bumiayu.

“Kami ingin Bu Nurhayati tetap di sini. Beliau baik, dekat dengan siswa, dan selama dipimpin beliau sekolah kami banyak prestasi,” teriak salah satu siswa dalam video yang beredar.

Aksi yang awalnya berlangsung damai sempat memanas ketika beberapa guru mencoba menenangkan siswa agar kembali ke kelas. Namun, sebagian siswa tetap bertahan dan menolak melanjutkan pelajaran sebelum tuntutan mereka didengar.

Kepolisian dan Dinas Pendidikan Turun Tangan

Mengetahui situasi mulai tidak kondusif, pihak sekolah menghubungi aparat keamanan. Petugas Polsek Bumiayu bersama sejumlah pejabat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes segera datang ke lokasi untuk melakukan mediasi.

Kapolsek Bumiayu, AKP Dwi Santoso, membenarkan adanya aksi siswa tersebut. Ia menegaskan bahwa situasi sudah dapat dikendalikan dan tidak terjadi kerusuhan fisik.

“Benar, ada ratusan siswa yang menolak kepala sekolah baru. Kami langsung datang bersama pihak dinas untuk menenangkan situasi. Tidak ada kekerasan, semua bisa dikendalikan,” ujar AKP Dwi.

Pihaknya juga mengimbau para siswa untuk tidak mudah terprovokasi dan menyerahkan persoalan pergantian kepala sekolah kepada pihak berwenang.

Penjelasan Dinas Pendidikan

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, Slamet Riyadi, M.Pd, menjelaskan bahwa mutasi kepala sekolah merupakan hal rutin dan normal dalam sistem birokrasi pendidikan.
Menurutnya, pergantian pimpinan sekolah tidak semata-mata karena alasan pribadi, melainkan untuk pemerataan dan penyegaran manajemen di satuan pendidikan.

“Kami memahami reaksi emosional siswa, apalagi jika mereka merasa dekat dengan kepala sekolah sebelumnya. Tapi mutasi itu bagian dari kebijakan yang harus dijalankan agar semua sekolah mendapat kesempatan berkembang,” ujar Slamet dalam keterangannya kepada wartawan.

Slamet juga menegaskan bahwa kepala sekolah baru, Sukirman, merupakan pejabat pendidikan berpengalaman yang sebelumnya memimpin SMPN 3 Paguyangan dan berhasil meningkatkan prestasi sekolah tersebut.

“Kami berharap semua pihak bisa menerima dengan lapang dada. Kepala sekolah baru ini memiliki kinerja baik dan siap melanjutkan program-program yang sudah berjalan,” tambahnya.

Reaksi Guru dan Orang Tua

Beberapa guru dan wali murid mengaku kaget dengan aksi spontan para siswa tersebut. Mereka tidak menyangka bahwa murid-murid bisa melakukan demonstrasi hanya karena pergantian pimpinan.

Salah satu guru, yang enggan disebutkan namanya, mengaku bahwa Bu Nurhayati memang dikenal dekat dengan siswa dan sering mendukung kegiatan nonakademik seperti lomba, ekstrakurikuler, dan kegiatan sosial sekolah.

“Anak-anak merasa kehilangan sosok yang mereka anggap seperti orang tua sendiri. Mungkin karena itu mereka bereaksi spontan,” ujarnya.

Namun, ia berharap siswa dapat segera kembali fokus belajar dan menyerahkan urusan pergantian jabatan kepada pihak berwenang.

Orang tua siswa juga memberikan tanggapan beragam. Sebagian mendukung sikap anak-anak karena dianggap menunjukkan kepedulian, namun sebagian lain menilai aksi itu kurang tepat dilakukan di lingkungan sekolah.

“Kalau mau menyampaikan aspirasi boleh saja, tapi jangan sampai mengganggu kegiatan belajar,” kata Siti Mariyah (42), salah satu wali murid kelas IX.

Sekolah Kembali Kondusif

Menjelang siang, setelah dilakukan mediasi antara pihak dinas, guru, dan perwakilan siswa, suasana di SMPN 1 Bumiayu berangsur kondusif. Siswa diminta untuk kembali ke kelas, sementara kepala sekolah baru belum melanjutkan kegiatan perkenalan dan memilih untuk berdialog terlebih dahulu dengan dewan guru.

“Kami akan melakukan pendekatan persuasif kepada siswa dan guru. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Semua pihak diharapkan bisa menerima perubahan dengan baik,” ujar Sukirman singkat saat ditemui wartawan.

Aktivitas belajar mengajar akhirnya kembali berjalan pada sesi siang hari, meskipun sebagian siswa masih terlihat enggan berinteraksi.

Viral di Media Sosial

Aksi ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Tagar #SMPN1Bumiayu dan #TolakKepsekBaru sempat masuk dalam trending lokal di Jawa Tengah. Banyak warganet menyoroti kedekatan emosional siswa terhadap kepala sekolah lama, namun ada juga yang mengkritik cara penyampaian aspirasi tersebut.

Sejumlah komentar menilai bahwa peristiwa ini bisa menjadi pelajaran penting tentang pendidikan karakter dan etika berdemokrasi di kalangan pelajar.

Dinas Pendidikan Imbau Tidak Ada Provokasi

Menanggapi viralnya video, Dinas Pendidikan juga meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan video atau komentar yang dapat memperkeruh suasana.

“Kami minta agar orang tua dan masyarakat tidak memperuncing masalah ini di media sosial. Semua sedang kami tangani dengan pendekatan pendidikan, bukan hukuman,” ujar Slamet Riyadi.

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menggelar pertemuan khusus antara kepala sekolah baru, guru, siswa, dan komite sekolah untuk membangun kembali suasana kondusif di lingkungan belajar.

Shoppe Mall