Dumai – Bamsoet Minta Soeharto Berikan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Dua nama besar. Dua warisan sejarah yang sangat berbeda. Dan dua respons publik yang tidak kalah kontras.
Dua Presiden, Dua Warisan, Satu Pengakuan?

Baca Juga : Wagub Aceh Saat Ketemu Truk Pelat Medan Tanya Sopir ‘Sudah Makan
Bamsoet menyampaikan permintaannya dengan alasan bahwa keduanya telah memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa dan negara, meski dengan cara dan zaman yang berbeda
“Pak Harto membangun fondasi ekonomi nasional. Gus Dur membangun fondasi demokrasi dan toleransi,” ujar Bamsoet dalam pernyataannya.
Tapi seperti biasa, ketika bicara soal sejarah, narasi tak pernah tunggal.
Soeharto: Antara Bapak Pembangunan dan Bayang-Bayang Orde Baru
Sebagai pemimpin Indonesia selama 32 tahun, Soeharto meninggalkan jejak besar — mulai dari swasembada pangan, pertumbuhan ekonomi, hingga pembangunan infrastruktur nasional.
Namun di sisi lain, masa pemerintahannya juga dikenal dengan:
-
Otoritarianisme politik
-
Pembungkaman kebebasan pers
-
Pelanggaran HAM
-
KKN yang merajalela
Bagi sebagian orang, ia adalah simbol stabilitas. Bagi sebagian lainnya, simbol represi.
Pertanyaannya: apakah kontribusi bisa menghapus luka sejarah?
Gus Dur: Bapak Pluralisme yang Tak Sempat Selesai
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, meskipun hanya menjabat selama dua tahun, dikenang sebagai:
-
Pejuang demokrasi
-
Tokoh pluralisme dan toleransi
-
Presiden yang berani membuka akses terhadap isu-isu tabu, seperti Tionghoa, kebebasan beragama, hingga reformasi militer
Tapi masa pemerintahannya juga dianggap kacau oleh sebagian elit saat itu. Ia dicopot lewat Sidang Istimewa MPR yang juga menuai kritik.
Namun dalam dua dekade terakhir, citra Gus Dur justru makin harum. Banyak yang melihatnya sebagai presiden paling jujur dan paling progresif dalam sejarah RI.
Apa Syarat Jadi Pahlawan Nasional?
Gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar simbol. Ada kriteria ketat, antara lain:
-
Jasa luar biasa terhadap bangsa dan negara
-
Konsistensi dalam memperjuangkan kemerdekaan atau keutuhan negara
-
Tidak pernah melakukan tindakan tercela
Inilah yang membuat usulan Bamsoet berani tapi penuh risiko — terutama terkait rekam jejak Soeharto yang masih kontroversial.
Respons Publik: Antara Apresiasi dan Penolakan
Di media sosial, respons netizen terbelah:
-
Pendukung Soeharto menyebut ini sebagai bentuk penghormatan terhadap arsitek pembangunan nasional.
-
Kritikus menilai gelar pahlawan seharusnya tidak diberikan kepada tokoh dengan catatan pelanggaran HAM berat.
-
Pendukung Gus Dur umumnya menyambut baik, bahkan menganggap pengakuan itu sudah sangat layak dan terlambat.
Penutup: Menghormati Sejarah, Tanpa Melupakan Luka
Usulan Bamsoet ini bukan hanya soal dua nama besar. Ini tentang bagaimana bangsa ini mendamaikan masa lalu, mengakui jasa, tanpa menutup mata terhadap kesalahan.
Apakah kita siap menyebut Soeharto dan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional di hari yang sama?
Atau sejarah akan tetap menempatkan mereka di sisi berbeda: satu dikenang, satu diperdebatkan?
