Dumai – Kemenkes Tuai Kritikan Keputusan mencabut praktik Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk pasien BPJS di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menuai gelombang kritik tajam terhadap Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), yang menjabat sebagai Ketua Umum IDAI, diketahui tidak ini
Kabar ini pertama kali mencuat di media sosial, ketika sejumlah orang tua pasien mengeluhkan hilangnya akses terhadap layanan dokter anak subspesialis tersebut.
Puluhan testimoni membanjiri linimasa Twitter dan Instagram, menyebut betapa besar pengaruh beliau dalam menyelamatkan nyawa anak-anak.
Baca Juga : 138 Warga di Sukabumi Diduga Keracunan Usai Santap Menu Pengajian
Sekarang kami harus ke mana?” tulis seorang ibu pasien.
Kritik tak hanya datang dari masyarakat umum, tapi juga dari kalangan tenaga medis dan akademisi.
Banyak yang menilai bahwa sistem kesehatan nasional saat ini semakin menyulitkan dokter yang ingin melayani pasien secara ideal.
“Ini bukan sekadar soal satu dokter, tapi soal arah kebijakan kesehatan kita yang makin menjauh dari semangat keadilan,” kata seorang dosen Fakultas Kedokteran.
Hingga kini, Kemenkes belum memberikan penjelasan resmi yang menyeluruh atas pencabutan praktik tersebut.
Namun beredar dugaan bahwa pencabutan itu terkait dengan persoalan administratif dan ketentuan kerja sama dalam skema BPJS.
Beberapa sumber menyebut bahwa ada kebijakan baru soal status dan beban kerja dokter subspesialis di rumah sakit pendidikan.
RSCM sendiri merupakan rumah sakit vertikal di bawah Kemenkes dan rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sebagai RS rujukan nasional, RSCM menangani ribuan kasus kompleks tiap bulannya, banyak di antaranya berasal dari pasien BPJS.
Kehadiran dokter-dokter senior seperti Dr. Piprim sangat vital, terutama dalam kasus anak-anak dengan kondisi kritis dan langka.
Dengan hilangnya akses terhadap beliau untuk pasien BPJS, muncul kekhawatiran akan penurunan kualitas layanan di unit anak RSCM.
“Bukan berarti dokter lain tidak kompeten, tapi pengalaman dan kepemimpinan beliau sangat krusial,” ujar salah satu perawat di RSCM.
